Senin, 14 Juli 2014

Pencahayaan



MEMAKSIMALKAN PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK LAMPU DENGAN DENGAN SENSOR CAHAYA

Listrik adalah salah satu bentuk energi yang paling akrab dengan kehidupan sehari-hari, baik itu untuk industri, rumah tangga, pendidikan, transportasi, penerangan, dan komunikasi. Ketergantungan manusia terhadap energi listrik semakin besar. Efek yang ditimbulkan oleh energi listrik menjadikan ketergantungan pada masyarakat (Handoko, 2010). Hal ini membuat cadangan energi listrik yang tersedia semakin menipis. Apabila cadangan energi ini terus berkurang kekhawatiran akan timbulnya krisis energi juga semakin nyata.
Penggunaan energi listrik dalam kehidupan sehari-hari khususnya lampu sebagai alat penerangan secara berlebihan menjadi salah satu faktor pemborosan energi listrik. Perilaku ini dapat dijumpai pada kebiasaan masyarakat yang lupa untuk memadamkan lampu saat tidak digunakan. Lampu dibiarkan terus menyala dalam waktu yang lama bahkan sampai satu hari penuh. Apabila hal ini dibiarkan akan menyebabkan kenaikan tarif listrik yang memberatkan masyarakat itu sendiri dan tentunya berdampak pada pemborosan energi listrik. Selain itu, lampu yang dibiarkan terus menyala adakalanya dapat menyebabkan peristiwa kebakaran akibat arus pendek listrik. Tentu hal ini sangat merugikan dan tidak diinginkan masyarakat sehingga muncul pemikiran membuat suatu teknologi lampu yang dapat mengantisipasinya. Konsep teknologi ini diberi nama Lampu dengan sensor cahaya.
Lampu dengan sensor cahaya adalah salah satu teknologi alternatif dalam memaksimalkan penghematan energi listrik. Sesuai dengan namanya, alat ini bekerja berdasarkan prinsip sensor yang dipasang pada lampu. Apa pengertian alat sensor itu sendiri? Alat sensor adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan lingkungan. Untuk lebih jelasnya, akan dibahas lebih lanjut pada bagian pembahasan makalah ini.
Suatu konsep dalam makalah tentu menimbulkan masalah yang perlu dirumuskan dan dibahas lebih lanjut. Rumusan masalah dalam makalah ini antara lain :
1.      Bagaimanakah konsep dasar Lampu dengan sensor cahaya dalam menghemat energi listrik?
2.      Apa saja alat dan bahan yang diperlukan dalam membuat Lampu dengan sensor cahaya?
3.      Bagaimana cara kerja Lampu dengan sensor cahaya?
4.      Apa kelebihan dan kekurangan Lampu dengan sensor cahaya dalam menghemat energi listrik?

Konsep Dasar Lampu dengan sensor cahaya
Kebiasaan manusia yang lupa mematikan lampu saat pagi hari merupakan masalah yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Lampu dibiarkan menyala terus menerus bahkan sampai keesokkan harinya tanpa ada yang ingat untuk mematikannya.Apalagi cadangan energi listrik juga semakin berkurang. Oleh karena itu, kemajuan teknologi yang semakin pesat mendorong manusia menciptakan berbagai alat-alat baru dalam menghemat energi. Lampu dengan sensor cahaya atau Intelligent Sensor Light adalah lampu dengan teknologi terbaru yang dapat mengatasi masalah lupa memadamkan lampu yang dialami manusia. Lampu ini memadukan antara teknologi lampu konvensional dangan teknologi sensor. Lampu konvensional biasanya hanya dapat menyala atau padam secara manual, sedangkan teknologi lampu ini dapat padam atau menyala sendiri secara otomatis dengan bantuan sensor.
Terdapat banyak jenis sensor yang beredar di pasaran. Jenis sensor yang digunakan pada teknologi lampu ini adalah sensor cahaya. Cahaya yang dimaksudkan disini adalah cahaya matahari, bukan jenis cahaya lain. Saat hari sudah mulai terang, cahaya matahari mengenai sensor yang terpasang pada lampu  secara otomatis memutuskan aliran listrik pada lampu. Manusia tidak perlu menekan sakelar/stop contact seperti yg terjadi pada lampu konvensional yang sering dijumpai saat ini untuk memadamkan lampu. Saat lampu sudah mati secara otomatis, kondisi sakelar/stop contact akan otomatis dalan keadaan off. Hal ini karena ketika alat sensor mendapat cahaya, komponen sensor secara otomatis memutus aliran listrik pada fitting lampu sehingga membuat sakelar/stop contact dalam keadaan off. Sebaliknya, ini berlaku juga bila alat sensor mendapat cahaya.
Prinsip kerjanya yang mengandalkan cahaya, menyebabkan pemasangan alat ini harus diatur sedemikian rupa pada tempat-tempat yang mudah terkena cahaya (outdoor). Tempat-tempat yang dimaksud seperti teras rumah/gedung perkantoran atau halaman belakang rumah. Apabila ada kendala pencahayaan pada teras rumah seperti pada rumah bertingkat, pemasangan alat sensor tidak harus berdekatan dengan lampu. Prinsipnya hanya satu, pasang alat sensor pada bagian teras rumah yang sekiranya sering mendapat cahaya. Pemasangan diluar ruangan menimbulkan kekhawatiran apabila sensor lampu rawan terkena percikan air, untuk mengatasinya pada sensor lampu dilengkapi dengan tempat pelindung sejenis kotak sederhana agar tidak terkena percikan air saat hujan tiba.
Cara Kerja Lampu dengan sensor cahaya
Lampu dengan sensor cahaya menggunakan jenis sensor LDR. Sensor LDR (light Dependent Resistor) merupakan jenis sensor cahaya dari bahan semikonduktor yang karakteristik listriknya berubah-ubah sesuai dengan cahaya yang diterima. Bahan yang digunakan adalah Kadmium Sulfida (CdS) dan Kadmium Selenida (CdSe). LDR akan memiliki nilai resistansi tinggi jika menerima intensitas cahaya yang tinggi. Begitu juga sebaliknya.
Selain LDR sebagai sensor, dalam teknologi ini juga digunakan SCR. SCR adalah alat semikonduktor empat lapis (PNPN) yang menggunakan tiga kaki anoda, katoda, dan gate. SCR tidak dapat memperkuat sinyal. SCR tepat digunakan sebagai saklar solid state dan dikategorikan menurut jumlah arus yang dapat beroperasi. SCR arus rendah dapat beroperasi dengan arus anoda kurang dari 1 ampere, sedangkan arus tinggi dapat menangani arus beban ribuan ampere.
SCR dapat digunakan untuk penghubung arus pada beban yang dihubungkan pada sumber tegangan AC. Karena SCR adalah penyearah, maka hanya dapat menghantarkan setengah dari gelombang input AC. Oleh karena itu, output maksimum yang diberikan adalah 50%, bentuknya adalah bentuk gelombang DC yang berdenyut setengah gelombang.
Ketika SCR dihubungkan pada sumber tegangan AC, SCR dapat juga digunakan untuk mengatur jumlah daya yang diberikan pada beban. SCR memerlukan penggeser fasa supaya mempunyai output yang variabel. SCR adalah komponen yang prinsip kerjanya mirip dengan dioda, namun dilengkapi dengan gate untuk mengatur besarnya fasa yang dilewatkan pada sensor.

Secara teori pada saat tidak ada cahaya maka resistansi pada LDR ini bernilai tinggi jadi arus seolah-olah langsung mengalir ke gate ada hambatan yang besar pada LDR karena ada arus pen-triger yang masuk ke gate maka SCR bisa mengalirkan arus ke beban (lampu) dan pada saat seperti ini SCR dapat digambarkan seperti switch yang tertutup dan pada saat kondisi tersebut lampu menyala. Lalu Pada rangkaian ini SCR digunakan sebagai switch pada saat ada cahaya maka resistansi pada LDR bernilai rendah  sehingga arus seolah – olah mengalir langsung ke ground jadi tidak ada arus pentriger yang mengalir ke gate sehingga kondisi SCR digambarkan seperti switch yang membuka maka keadaan lampu tidak menyala
Kelebihan dan Kekurangan Lampu dengan sensor cahaya
Banyak orang di dunia ini terlalu sibuk untuk mengurusi masalah-masalah sepele seperti mematikan lampu di pagi hari. Lampu yang dapat menyala sendiri pada malam hari dan padam sendiri pada pagi hari sangat memudahkan orang-orang  sibuk dengan rutinitas sehari-hari dalam mengontrol lampu rumahnya. Lampu tidak harus menyala seharian  saat pemiliknya lupa memadamkan. Dengan teknologi ini, tagihan listrik dapat dikontrol sehingga efektif dan efisien. Upaya untuk menghemat energi untuk kepentingan bersama dapat terwujud karena tidak ada pemborosan listrik saat lupa memadamkan lampu. Teknologi lampu ini sangat mudah digunakan sesuai dengan cara kerjanya yang otomatis serta ramah lingkungan. Selain itu, untuk skala penggunaan yang lebih besar, teknologi Lampu dengan sensor cahaya dapat diterapkan pada bagian luar gedung perkantoran, perusahaan industri dan PT PLN sebagai perusahaan yang mengelola penyediaan energi milik negara.
Lampu dengan sensor cahaya lebih mudah digunakan karena pemilik tidak perlu mengatur waktu agar lampu dapat menyala atau padam otomatis seperti pada alat timer.  Teknologi lampu ini tidak menggunakan alat timer karena pada alat timer, lampu akan otomatis padam atau menyala jika waktu penghitung mundur habis masa berlakunya. Alat timer memiliki kelemahan jika diterapkan saat cuaca mendung dan membutuhkan penerangan. Saat mendung, suasana lingkungan dalam keadaan gelap. Jika menggunakan teknologi sensor cahaya, lampu akan otomatis menyala, sedangkan pada timer waktu tidak. Apalagi lama waktu penyinaran cahaya matahari berbeda-beda setiap harinya, tentu akan sangat merepotkan jika harus mengatur setting waktu setiap hari.
Dari segi perawatan, alat sensor cahaya tidak memerlukan perawatan khusus karena terbuat dari komponen sederhana berupa switching electronic yang banyak terdapat di toko-toko perlengkapan elektronik. Pemilik hanya harus mencegah agar lempengan komponen lampu tidak terkena air. Hal ini dapat diatasi dengan memasang kotak pelindung pada lempengan. Jenis lampu yang dapat digunakan juga terserah pada pengguna. Kinerja alat sensor tidak akan mempengaruhi keawetan lampu itu sendiri. Apabila lampu yang digunakan berkualitas baik, maka lampu dapat bertahan lama.
Namun yang menjadi kekurangan teknologi Lampu dengan sensor cahaya adalah tata letaknya yang hanya dapat dipasang pada bagian luar rumah/gedung. Padahal pada bagian dalam rumah juga terdapat banyak lampu yang memerlukan teknologi sensor cahaya agar penghematan energi listrik semakin maksimal. Untuk mengatasinya, pemilik harus membuat rangkaian seri tambahan yang menghubungkan lampu-lampu didalam ruangan dengan alat sensor yang dipasang di luar ruangan. Selain itu, karena masih merupakan gagasan dan perlu pengembangan lebih lanjut daya lampu maksimal yang dapat diterima oleh teknologi ini hanya sebesar 40 watt. Apabila lampu yang digunakan melebihi beban maksimal, lampu akan berkedip yang menandakan alat sensor tak berfungsi dan pemilik harus segera mematikan/melepaskan lampu dari fitting.
Lampu dengan daya maksimal 40 watt hanya cocok untuk penerangan di rumah tangga, sedangkan untuk kebutuhan penerangan dalam skala besar seperti pada gedung perkantoran dan industri diperlukan lampu dengan daya yang lebih besar. Oleh karena itu, teknologi Lampu dengan sensor cahaya yang diterapkan sedikit berbeda. Apabila ingin menerapkan teknologi ini untuk kebutuhan dalam skala besar maka ukuran alat juga harus dibuat lebih besar dan otomatis biaya pembuatannya juga bertambah.

LDR merupakan salah satu alat sensor yang karakteristiknya dapat mengubah arus listrik berdasarkan cahaya yang diterima. Alat ini terbuat dari bahan semikonduktor yang mudah mudah dibuat dan mudah dalam pemasangannya. Selain LDR ada juga SCR, yaitu alat yang tepat digunakan sebagai saklar solid state karena dapat dioperasikan dengan arus anoda kurang dari 1 ampere. SCR mempunyai prinsip kerja yang hampir sama dengan dioda bedanya pada SCR terdapat gate yang mengatur besarnya fasa. Kelebihan dari Lampu dengan sensor cahaya dibandingkan dengan lampu konvensional terletak pada efektifitas dan efisiensi penggunaan energi listrik. Berdasarkan cara kerjanya yang otomatis tentunya lampu ini akan lebih memudahkan manusia dalam penerapannya. Berdasarkan survei tentang ketersediaan energi listrik yang semakin berkurang, Lampu dengan sensor cahaya ini sangat tepat bila diterapkan oleh masyarakat luas yang menggunakan listrik.

tobe continued ..............



Original source :http://www.academia.edu/5419070/PEMANFAATAN_LAMPU_SENSOR_CAHAYA_GUNA_PENGHEMATAN_ENERGI

Minggu, 25 Mei 2014

Solar Home Emergency

Solusi Hemat Untuk Penerangan Terbarukan


Tanpa adanya aliran listrik rasanya tidak mungkin akan mendapatkan cahaya lampu yang begitu terang, Namun anda tidak perlu berkecil hati Dengan Utametz tanpa arus listrik lampu akan menyala Kenapa Utametz  karena sumber tenaganya dari matahari Karena lampu ini dilengkapi  solar panel untuk mengisi Baterai yang digunakannya. Lampu Utametz menggunakan lampu 5 SMD led dimana Ketahanan dan nyalanya yang terang bentuk finishingnya juga cukup bagus Materialnya juga kokoh.
                                                                        Gambar Hanya ilustrasi


Dapat menyala di malam hari  sampai 3 malam setelah di cahayakan ke matahari sekitar 10 jam ( Namun sinar matahari tidak cukup/mendung akan berefek pada waktu Pengecasan. Dilengkapi dengan kabel 4 meter dapat dipakai sebagai lampu jalan, lampu di kapal, lampu untuk camping atau dapat digunakan di segala tempat.Dengan menggunakan dimensi solar panel 6V  Lampu 153 X 75 mm. solar panel 120 x 95 mm. Instalasinya juga cukup mudah anda hanya perlu menempatkan panel surya di luar agar terkena cahaya matahari dan lampunya bisa anda pasang didinding untuk kemudahan anda menjangkau saklar on/of lampu tersebut.
Beralihlah ke lampu energy saving dengan memberdayakan solar panel sebagai salah satu sumber arus listrik atau energi yang terbarukan.

Hemat Listrik Di Kantor



Walaupun Himbauan hemat energi seringkali didengang-dengungkan di seantero negeri ini, tapi tetap saja dalam praktik keseharian, banyak yang mengabaikannya. Baik di rumah maupun di Perkantoran. Dalam blog ini saya ingin bercerita tentang hemat energi di perkantoran.

Saya sebenarnya nggak punya data, berapa persen dari perkantoran di negeri ini yang stafnya berbudaya ramah lingkungan di kantor. Namun kalau boleh saya katakan, dari pengalaman saya berkunjung ke berbagai kantor, umumnya kesadaran hemat energi belum sampai mendarah daging.

Siang Hari banyak kantor yang menyalakan lampunya. Belum lagi pemakaian AC, komputer yang tidak dimatikan meski tidak dipakai, konsumsi kertas yang berlebihan, dan sebagainya.

Di sebuah institusi di Aceh, Tempat saya Bekerja para staf tidak merasa menghambur-hamburkan energi. Tak cuma level staf biasa yang sering menyalakan dan meninggalkan Komputer di mejanya dalam kondisi hidup berjam-jam. Pemimpinnya, pun berlaku sama.

Padahal saya yakin, mereka tahu bahwa minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang dikatakan  sebagai bahan bakar fosil diperkirakan akan habis . Bahan bakar fosil adalah sumber daya tak terbarukan karena perlu jutaan tahun untuk terbentuk.Sumber yang ada saat ini lebih cepat habis ketimbang terbentuk yang baru.

Dan, mereka juga tahu, ada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2008, revisi  dari Inpres Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi, yang  menginstruksikan kepada pimpinan lembaga pemerintahan baik pusat maupun  daerah untuk melakukan langkah-langkah dan inovasi penghematan energi  dan air di instansi masing-masing. Upaya itu di antaranya terkait  penghematan lampu penerangan, pendingin udara, dan peralatan yang  menggunakan energi listrik, bahan bakar minyak, atau gas.

Entah, apa institusi-institusi memiliki semacam panduan (SOP) untuk melakukan penghematan energi. Dan kalaupun memiliki SOP, apakah SOP itu diterapkan sungguh-sungguh? Bagaimana dengan kantor Anda? Apakah Anda termasuk staf yang mendukung gerakan hemat energi untuk kantor Anda, atau Anda apatis dengan hal ini?

Berikut beberapa tips-tips untuk berhemat listrik di kantor berdasarkan pemikiran yang sederhana mudah-mudahan bermanfaat.

A.Lampu dalam ruangan
Matikan lampu bila ruangan tidak digunakan.
Pergunakan lampu hemat energi (LED), bila perlu yang dilengkapi motion sensor walau mahal diawal tapi banyak manfaat yang didapat tentunya peningkatan efisiensi.
Instalasikan penerangan dengan beberapa saklar central sehingga mudah untuk mengatur pemakaian lampu sesuai kebutuhan.
Buka gorden atau tirai di siang hari hingga penerangan alami bisa digunakan.
Bersihkan lampu yang berdebu, karena debu bisa mengurangi intensitas penerangan.
Pergunakan warna muda/cerah untuk dinding dan langit-langit.
Atur perabotan dengan baik agar tidak menghalangi cahaya.

B.Lampu luar ruangan
Gunakan Lampu taman Tenaga Solar Yang akan menyala Automatis dimalam Hari dan Mati saat matahari muncul. MAHAL! Tidak sekali lagi ini untuk efisiensi dan investasi kedepan.
Gunakan lampu LED dengan sensor cahaya pada area luar ruangan.
Instalasikan listrik dengan sakiar Terpusat sehingga mudah untuk mengatur pemakaian lampu sesuai kebutuhan.
Tips menghemat listrik pada penggunaan kulkas
Pintu kulkas harus ditutup rapat, buka jika perlu.
Atur suhu kulkas sesuai kebutuhan.
Jangan memasukkan makanan dan minuman yang masih panas.
Tempatkan kulkas jauh dan sumber panas.

Tips menghemat listrik pada penggunaan AC
Matikan AC bila ruangan tidak dipergunakan dalam waktu Iama
Nyalakan AC 1 jam sesudah jam kerja dimulai dan matikan AC 1 jam sebelum jam kerja berakhir.
Tutup pintu dan jendela jika AC sedang menyala.
Atur suhu AC sesuai kebutuhan, sekitar 23-25°C, semakin dingin suhu semakin besar konsumsi listriknya.
Pergunakan kaca film pada jendela ruangan.
Gunakan timer untuk mengatur pemakaian agar sesuai kebutuhan.
Bersihkan AC secara berkala.
Tips menghemat listrik pada penggunaan mesin fotocopy
Pergunakan fungsi “energy saver” pada mesin fotocopy jika mesin tidak digunakan.
Langsung matikan mesin (tombol power off atau cabut stop kontak) jika tidak digunakan dalam waktu yang sangat lama, misalkan pada jam istirahat atau jam pulang kantor.
Tips menghemat listrik pada penggunaan peralatan audio video
Atur volume sesuai kebutuhan.
Sebaiknya matikan alat jika tidak digunakan, hindari penggunaan “standby mode”.
Jika tersedia, pergunakan fungsi timer sebaik-baiknya untuk mengatur pemakaian peralatan.
Bila perlu, gunakan stop kontak dengan sakiar on/off, agar lebih mudah mematikan peralatan listrik.
Tips menghemat listrik pada penggunaan komputer dan printer
Matikan layar monitor apabila istirahat.
Hindari penggunaan screensaver, karena akan merubah setting layar monitor untuk selalu aktif.
Pergunakan resolusi display dan brightness yang rendah.
Pergunakan wallpaper dengan warna hitam.
Atur “Power Setting” agar monitor dapat menset power “off’ secara otomatis.
Matikan komputer (CPU) UPS dan monitor bila tidak digunakan dalam waktu lama.
Tips menghemat listrik pada penggunaan pompa air
Gunakan Tangki penampungan (tandon), Gunakan Stopkran Central untuk mengatur Arah Aliran Air sesuai Kebutuhan
Gunakan Timer beserta auto stop Kran agar Aliran Air Berhenti sesuia dengan waktu yang telah diatur.
Batasi penggunaan air untuk utilitas seperti air Mencuci kendaraan lebih lebih kenderaan pribadi. Penggunaan air untuk proyek pembangunan gedung kantor dan sebagainya.
Ada baiknya untuk memeriksa instalasi saluran air, terutama untuk menghindari kebocoran air
Gunakan auto stop Water sprinkle untuk menyiram tanaman.


Source: http://greensavitri.blogspot.com/2011/07/hemat-energi-di-kantor.html